
Hari ini seisi rumah heboh. Sakti mau psikotest! Bayangkan coba, anak umur 2,6 tahun sudah harus ikut psikotest! Kontan kami semua jadi sibuk. Mulai dari membujuknya bangun, membujuknya sarapan sampai menggendongnya ke kamar mandi. Maklumlah, anak sekecil itu harusnya masih dibiarkan bermanja dengan segala keinginannya, termasuk bangun pagi, mandi dan sarapan. Tapi apa boleh buat, dunia sudah berubah! Mau masuk preschool pun ada testnya!
Jam 7.30 pagi, genjreeng, semuanya siap, termasuk tas dengan bawaan susu dan snack (samasekali bukan berisi buku). Aku sebagai ibunya menyempatkan buat mengantar Sakti. Ini hari pertamanyanya sekolah sekaligus test, aku tak bakal melewatkan moment itu. Si Ayah dengan perasaan bangga juga ikut mengantar. Ini anak kita, mulai menghadapi dunia..!!
Disekolah, sudah banyak ayah-ibu dan anaknya berdatangan. Aku dan si Ayah sedikit kikuk. Bukan soal sekolahnya atau apa, tapi itu lho...penampilan kami. Semua yang mengantarkan anaknya terkesan 'serius, sementara kami, aha, orangtua yang bisa dibilang 'nyantai' kalau sudah jatuh urusan penampilan (tapi bukan 'nyantai' soal pendidikan anak lho). Guru-guru pun terlihat 'mengangkat alis' ketika melihat kami. Aku dan si Ayah tetap 'nyantai' melihat reaksi seperti itu. Hei, ini jatidiri kami, tak bakal berubah cuma gara-gara mengantarkan anaknya sekolah, heheheh...
Sakti, dia langsung 'ngeblend' sama lingkungannya. Semua permainan yang ada disekolah dia lahap tak bersisa. Bolak-balik dia main perosotan, ayunan, memanjat, loncat, jatuh. Bajunya jadi berubah warna tak karuan, jauh dari rapi. Mungkin memang sudah jadi garis, ayah-ibu-anak, setali tiga uang, tak bisa dandy...:)
Jam 08.00 pagi psikotest dimulai. Sakti masuk ruangan, sementara para orangtua dikumpulkan diruangan lain sambil diberi pengarahan basa-basi oleh guru-guru. Ada perasaan yang campur baur saat melihat Sakti berada dalam kelas bersama anak-anak lain. Aku dan si Ayah rasanya baru kemarin melihat Sakti lahir, menangis, merangkak, belajar berjalan, berlari. Baru kemarin mendengar kata-kata pertamanya yang masih terbata-bata dan kurang jelas, tapi sekarang, lihat, ia sudah mulai sekolah, sudah mulai memasuki babak baru dalam perjalanan hidupnya. Mengenal dunia.
Saat aku dan si Ayah terbuai lamunan, tiba-tiba Sakti berlari kearahku dari dalam kelas.
"Ati (panggilanku untuk Sakti) kenapa keluar? Tuh lihat, yang lain masih didalam".
"Ati gak mau didalem!"
"Kenapa?"
"Didalem sempit!"
Walah, anakku tak kerasan didalam kelas!
Gurunya langsung menghampiri aku.
"Bu, anaknya gak mau duduk diam, dari tadi keliling-keliling terus!"
Akupun mencoba membujuknya.
"Ati kan mau sekolah, kalo sekolah harus duduk didalam kelas, dengerin ibu guru!"
"Ati mau mobil-mobilan itu Bunda." Ia menunjuk mobil-mobilan prakarya murid-murid yang dipajang di dalam kelas.
"Iya, entar Bunda beliin, sekarang masuk dulu ya".
Setelah segala bujukan dikeluarkan, akhirnya Sakti mau masuk ke dalam kelas. Aku dan si Ayah kembali menunggu di luar kelas. Ibu guru mungkin mulai bisa membaca karakter Sakti, karena ketika diberikan seperangkat pensil warna dan kertas, Sakti langsung duduk diam dan asyik mencorat-coret kertas.
Ketika kulongok Sakti dari pintu kelas, ia masih asik dengan pensil warnanya. Aku dan si Ayah kemudian pamit, karena kami harus ke kantor...
Aku dan si Ayah, kami mulai lagi satu babak baru dalam hidup, menjadi orangtua murid... tepat dihari Pendidikan Nasional..